Mengangkat nilai visual produk lokal melalui pendekatan Design Thinking.
The Problem (Kemasan Lama)
Sebagai desainer, saya melihat potensi besar pada produk lokal UMKM. Namun, seringkali kemasan menjadi kelemahan utama. Berikut adalah tampilan asli dari "Keripik Putra Langgeng":
Desain awal: Terlalu ramai, hirarki informasi kurang jelas.
Proses Design Thinking
Untuk menyelesaikan masalah visual ini, saya menggunakan metode Design Thinking untuk memastikan desain baru tidak hanya bagus, tapi juga fungsional.
1. Empathize (Empati)
Pembeli camilan menginginkan informasi yang cepat: Rasa apa ini? Apakah higienis? Kapan kadaluarsanya? Desain lama membuat mata lelah karena warna yang tumpang tindih dan font yang bermacam-macam.
2. Define (Mendefinisikan Masalah)
Masalah: Label kemasan kurang memiliki identitas *brand* yang kuat, sistem penandaan *expired date* manual (tabel dicoret) memberi kesan kurang premium, dan teks varian rasa tenggelam di *background*.
3. Ideate (Ideasi)
Saya merancang konsep desain yang lebih clean. Menggunakan palet warna yang menggugah selera (kuning pisang/coklat hangat), tipografi yang modern namun tetap merakyat, dan membuat area khusus yang rapi untuk cap kadaluarsa dan perizinan (PIRT).
4. Prototype (Prototipe)
Dari sketsa kasar, saya memindahkannya ke dalam desain digital dan mengaplikasikannya pada *mockup* 3D kemasan plastik *standing pouch* agar terlihat nyata.
The Solution (Hasil Redesign)
Berikut adalah hasil eksekusi *redesign* kemasan "Keripik Putra Langgeng". Saya membaginya dalam 4 sudut pandang visual:
Kesimpulan (5. Test & Feedback)
Desain yang baik tidak hanya tentang estetika, tetapi tentang menyelesaikan masalah komunikasi visual. Dengan *redesign* ini, diharapkan nilai jual Keripik Putra Langgeng dapat meningkat dan mampu bersaing di pasar yang lebih luas.
Bagaimana menurut kalian hasil redesign ini? Tulis di kolom komentar ya!
0 Comments