UTS SERAM?!!
Mari dengar cerita
Cerita Saya
"Tidak semua ujian itu Menakutkan" Pagi itu, suasana kelas terasa lebih dingin dari biasanya. Bukan karena pendingin ruangan yang rusak, melainkan karena aura ketegangan yang menggantung di udara. Teman-temanku sibuk membolak-balik catatan dengan panik, mencoba menghafal definisi-definisi rumit di menit terakhir. Aku pun sama, keringat dingin mulai terasa di telapak tangan. Dalam bayanganku, ujian ini akan penuh dengan teori kaku yang harus ditulis persis seperti di buku teks. Namun, segalanya berubah ketika Dosen masuk dengan senyum tenang. Beliau tidak langsung membagikan kertas soal, melainkan berdiri sejenak di depan kelas. "Simpan catatan kalian," katanya pelan namun tegas. "Jangan tegang. Anggap saja ujian ini seperti kalian sedang bercerita kepada saya. Saya tidak butuh definisi kaku, saya butuh pemahaman kalian." Kalimat itu seperti mantra. Bahu yang tadinya tegang perlahan turun. Ketika lembar soal dibagikan, aku tersenyum. Benar saja, ini bukan ujian hafalan, ini adalah kanvas untuk berekspresi. Aku mulai mengerjakan soal pertama dengan antusias. Alih-alih menulis poin-poin membosankan, aku merangkai narasi tentang dua dunia yang berbeda. Aku bercerita tentang "Pemasaran Konvensional" sebagai seorang pedagang yang berteriak lantang di pasar yang ramai berharap siapa saja mendengar melawan "Pemasaran Digital" yang seperti seorang sahabat yang berbisik tepat di telinga orang yang memang membutuhkan, menggunakan data dan algoritma sebagai bahasanya. Penaku menari, menjelaskan pergeseran dari baliho raksasa menuju layar ponsel yang personal. Lanjut ke soal kedua, memoriku langsung terlempar ke pertemuan beberapa minggu lalu. Soal ini memintaku menceritakan proses pembuatan blog di Blogger. Aku tidak menulis langkah teknis seperti robot, tapi aku menuliskan perjalananku: mulai dari kebingungan memilih template yang pas, bagaimana rasanya "mengulik" tata letak sederhana, hingga kepuasan kecil saat menekan tombol Publish untuk pertama kalinya. Aku ceritakan bagaimana kuliah Bapak mengubah kami yang tadinya awam menjadi pemilik situs web sederhana kami sendiri. Terakhir, soal ketiga adalah yang paling menyenangkan: menggambar ulang storyboard. Kertas ujianku berubah menjadi lembar sketsa. Aku menarik garis kotak-kotak panel, memvisualisasikan adegan demi adegan yang pernah kami bahas. Bukan sekadar menggambar, aku sedang menyutradarai sebuah ide di atas kertas, memastikan alur visualnya bisa dipahami tanpa perlu banyak kata. Saat waktu habis, aku meletakkan pena dengan perasaan lega yang aneh. Tidak ada rasa pusing atau tertekan. Keluar dari ruangan, aku sadar bahwa hari ini aku tidak sekadar "mengerjakan ujian", tapi aku baru saja menceritakan kembali petualangan belajarku selama satu semester. Dan ternyata, ujian itu menyenangkan.
0 Comments